Sunday, June 6, 2010

Petualanganku menjadi lesbian bersama Margie, Ilen dan Elang

Panggil aku Margie. Masih single, dan (semoga terlaksana) akan menikah beberapa bulan lagi. Aku sobat kentalnya Sang Elang yang badung itu. Kalian pasti sudah baca pengalamannya yang unbelievable. But, I’m the witness. He’s a lucky one! Apa lagi yang aku mesti kasih tahu? Ini saja aku sudah nekat, berani malu, karena namaku sudah diketahui. Nama asli. Elang juga sih, mentang-mentang paling cuek, paling badung, paling gila, dia dengan asyiknya bercerita segalanya. Srida, itu asli. Ilen, itu juga. Setahuku yang disembunyikannya adalah nama istrinya. Venus ya, dia bilang? Bohong! Aslinya khan…, sudah deh, paling disensor sama si Dayak itu. Elang memang sableng. Kerjanya tiap hari pasti cerita yang aneh-aneh. Dia suka hal-hal yang berbau magis dan serem (bagiku). Dan dia pernah mengaku kalau cita-citanya dulu itu adalah menjadi vampire. Biar gampang naklukin gadis-gadis, begitu ‘udel’nya. Dan satu lagi kegemarannya. Dia paling doyan juga segala hal yang berbau ngeres. Tiap hari dia punya cerita soal seks. Kadang aku bilang sama dia, “Lang, segala hal pastilah mengingatkanmu pada seks!” Si tengil itu cuma nyengir. Salah seorang rekan di divisiku malah menyebutnya germo. Karena teman ceweknya banyak, dan tidak tahu kenapa, artis-artis yang suka main ke kantorku bisa cepat akrab sama dia. Eh, aku kok malah cerita soal Elang. Ke-GR-an entar dia. Aku satu divisi sama Elang sejak aku masuk kerja. Atasanku seorang (kataku masih, kata Elang nggak) perawan tua. Sedangkan empat orang lainnya yang sudah kawin dua orang, plus Elang. Selain itu aku punya teman dari divisi lain. Salah satunya bernama Eca. Eca ini anak Bandung, suaminya orang Jakarta. Sama-sama kerja di kantorku. Eca di administrasi, suaminya di teknik. Sebelumnya sorry, kalau nama Eca yang asli kusembunyikan, aku tidak setega Elang. Tapi kalau ketahuan juga, (seperti kata Elang) cuek sajalah. Toh, di kantorku juga banyak yang rahasianya sudah diketahui umum. Paling kalau ada teman sekantor yang baca, dia nyengir-nyengir kalau ketemuku. Atau malah kalau salah seorang penyiar kondang di kantorku (yang ketahuan memang punya kelainan itu) mendekatiku, pengen mencoba ‘main’ denganku. Aku pasang tarif saja. Hihihi, lumayan buat modalku kawin. Eca ini suka sama Elang, suka-suka gitu deh. Kalau menurutku, paling dia suka sama bulu Elang yang lebat di mana-mana itu. Kecuali di ’situ’, aku tidak pernah lihat sih. Elang sih bilang kepadaku kalau Eca pernah menggodanya di ruang presentasi departemen kami. Aku pertama nggak percaya, tapi setelah kilik-kitik si Eca, dia memang kelihatannya suka. Aku bilang Elang, sikat saja. Elang hanya bilang, “Mending sama kamu. Single dan tidak bikin masalah. Kalau ketahuan si Ndoet gimana? Lagian bentar lagi aku menikah kok.” Ndoet itu suami Eca. Iya Elang memang akan menikahi Venusnya. Dan dia lumayan ‘kaku’ untuk berbuat macam-macam sama cewek lain. Kecuali dengan Srida dan Ilen (kecelakaan, ujarnya), dia ‘lurus’. Aku tahu, karena aku dan dia selalu berbagi rahasia. Senang-senang boleh, katanya, tapi cuma gitu doang, tidak menjurus ke ranjang. Salut juga aku. Padahal sih banyak yang mendekati dia. Sudah ah, hidung si Elang makin mengembang entar, kalau aku membanggakan dia. Suatu malam Eca meminta aku datang menemaninya saat suaminya harus memasang stasiun transmisi di luar kota. Dia dan aku bercerita, saling berbagi rahasia. Dia mengatakan lagi padaku kalau dia tertarik kepada Elang. Eca cerita fantasinya tentang Elang. Dia memintaku menelepon Elang, karena Elang adalah teman baikku. Entah mengapa, aku tertarik dengan ceritanya dan fantasinya terhadap Elang, aku setuju untuk menelepon Elang. Kami menuju ruang tamu Eca dan menelepon Elang. Kami berdua duduk berdekatan di dekat telepon, menempelkan telinga di gagang telepon. Mendengarkan percakapanku dengan Elang. “Elang, aku di tempatnya Eca nih.” “Heh, ngapain?” “Nemenin Eca. Suaminya ke Sumatera”, kataku. “Eh, lu ke sini dong.” “Nggak ah.” “Ayolah, aku mau ngajak lu ke Bengkel. Eca tidak pernah diajak lakinya having fun nih.” “Pergi saja.” “C’mon Lang, you’re my best friend.” “Bentar lagi ya. Aku mesti mandi dulu. Habis tennis tadi di Senayan.” “Oke. kutunggu.” “Eh, omong-omong, kamu dan Eca pakai baju apa sekarang?” “Kenapa?” “Aku mau kalau aku datang, lu-lu pada pakai baju yang seksi. Tembus pandang kek, mini kek.” Gokil si Elang datang lagi. “Wuuuuu…” “Kalau nggak, aku balik lagi.” “Sudah ah! Cepat ke sini.” “Iya, iya. Sabar napa?” “Pokoknya kutunggu.” “Tidak mesti bawa Venus khan? dia paling ogah ke tempat gituan.” “Iya.” Telepon pun ditutup. Aku hanya tersenyum waktu Eca bilang kalau dia terangsang mendengar suara Elang yang katanya seksi. “Gimana kalau kutelepon lagi dia? Kali ini lu yang ngomong”, kataku pada Eca. “Ah, malu dong.” “He! Dia asyik-asyik saja kok kalau diajak bicara.” “Gila apa?” “Benar. Lu bisa cerita apa saja ke dia.” “Tapi khan dia entar ke sini.” “Nanti ya nanti. Sekarang lu puas-puasin dengerin suaranya itu. Beda lho di telepon dengan yang langsung. Di telepon itu, gimana ya? Lebih menggairahkan”, kataku sambil tanganku meraih gagang telepon kembali. Eca cuma bisa diam memandangku. Telepon Elang kembali diangkat, aku memberikan kepada Eca setelah bilang ke Elang, “Anggap saja ini telepon 0809 itu, Lang.” Maksudnya telepon Japati yang tarifnya bikin kantong kebakar itu. Sinting tuh, orang yang mau dikibulin gitu. Aku meninggalkan Eca, menuju kamar tidurnya. Di situ pun ada telepon yang diparalelkan. Dengan hati-hati aku menguping. Biasalah, perempuan dimana-mana suka yang kayak gini nih. Pertamanya Eca agak canggung. Tapi kemudian nggak. Apa lagi ketika Elang mulai miring. Menggoda Eca dengan bermacam pertanyaan, apalagi dia tahu Ndoet tidak ada. Gila tuh Elang. Sex Maniac! Aku tersenyum sendiri mendengar gombalnya Elang. Makin lama makin parah omongan mereka berdua. Ya itulah Elang, kalau sekedar gini doang, pasti diladeninya. Ada-ada saja yang diceritainnya. Aku senang mendengar mereka berdua cepat akrab dan terbuka. Mungkin Eca nggak tahu kalau aku ngupingin dia, jadi dia meladeni kesablengan Elang. Elang menyuruh Eca menyentuh tubuhnya, dari dada sampai vaginanya, mengelusnya, dan mengatakan pada lelaki itu bahwa kewanitaan Eca telah basah. Saat Eca menjawab bahwa vaginanya sudah basah sekali, aku tidak dapat menahan diri untuk tidak menyentuh punyaku sendiri. Eca menceritakan pada Elang dengan sangat mendetail bahwa vaginanya bersih, tercukur rapi. Aku terbaring di ranjangnya dan entah kenapa, tiba-tiba mengkhayalkan apa yang Eca katakan. Dia berbisik kepada Elang, bahwa saat ini dia sedang mengelus klitorisnya. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Kubuka celana pendek yang kukenakan dan celana dalam sekalian, sehingga aku dapat memainkan vaginaku dengan jari-jariku. Tanpa sadar aku mengerang. Erangan itu didengar mereka berdua. Lalu Elang bertanya padaku kenapa dari tadi tidak ikutan di telepon. Kubilang aku cuma kepingin dengar, dan edannya aku ikut terangsang. Kubilang kalau saat ini aku sedang mengelus vaginaku juga. Elang senang mendengarkannya, dua orang wanita muda masturbasi sambil dia membacakan cerita. Tiba-tiba Eca masuk ke kamarnya. Telanjang bulat. Dia berbaring di sebelahku. “Pakai speakernya saja, Marg, jadi aku bisa ikut dengar.” Aku melaksanakan permintaannya. “Aku di kamar sekarang, Lang. Dengan Margie”, kata Eca. “Hei! Apa yang kalian lakukan?” Agak kaget si Elang. “Eca denganku sekarang. Di tempat tidur.” “Wah, asyik juga nih.” Elang berseru, aku tahu dia pasti sambil senyum jahil, “Aku tuntun ya!” Aku nggak tahu kenapa, Eca juga. Kami cuma menjawab, “Ya, Lang.” “Kalian sudah pernah berhubungan dengan sesama perempuan sebelum ini?” tanya Elang. “Belum”, jawabku. “Belum, Lang. Tapi aku pernah mengkhayalkannya”, jawab Eca. “Great. Aku akan menjadi penunjuk jalan”, kata Elang. “Eca, maukah lu menyentuh Margie?” “Ya”, jawabnya. “Sentuhlah payudara Margie.” Tangan Eca menyelusuri tubuhku, sampai ke batas bra yang kupakai. Dengan kedua tangan, kubuka t-shirt yang kupakai. Puting payudaraku mengeras dan aku dapat merasakan tangan Eca yang lembut membuka hook di daerah depan bra yang kukenakan. Jemarinya membelai payudaraku. Aku mengeluh pelan. Sensasi yang berbeda kurasakan, tidak seperti rasa yang diberikan Daud, pacarku, kalau sedang menyentuhku. “Sekarang giliranmu, Marg”, kata Elang. Aku sedikit gemetaran karena sensasi aneh ini. Aku menggerakkan telapak tanganku, menyentuh dada Eca yang mulus dan terbuka menantang. Aku dapat merasakan tubuhnya yang hangat. Putingnya lebih kecil dari punyaku dan terasa sangat berbeda. Aku dapat merasakan vaginaku mulai basah dan memanas saat kudengar Elang memberikan petunjuk selanjutnya. “Sekarang saatnya untuk saling merasakan kewanitaan kalian masing-masing. Rasakan perubahannya, rasakan”, kata laki-laki itu. Eca yang mulai duluan, menggerakkan tangannya. Perlahan-lahan kumerasa jemarinya menyentuh pangkal pahaku. Dia menggerakkan jemarinya mendekat ke vaginaku, dan lalu mengerang saat merasakan vaginaku yang basah dan lembut. “Anggaplah itu vagina kalian sendiri.” Elang memberikan instruksi lanjutan. Eca menggosok bagian luar vaginaku, membuatku menaikkan pinggulku ke atas. “Ooooh, Margie. Punyamu lebih indah dari punyaku. Ooooh, aku sungguh senang dapat menyentuhnya, membelainya”, erang Eca. Saat jemarinya memasuki lubang kenikmatanku, aku merasakan kalau aku akan mencapai orgasme. Sentuhannya membuat gerakanku menjadi liar. Eca tampaknya tahu bagaimana aku menginginkan dia menyentuh vaginaku. Dia menggosok klitorisku, membuat benda kecil berwarna merah muda itu menjadi semakin keras dan menegang. Aku mengerang hebat, melenguh sejadi-jadinya. Elang tahu kalau aku belum berbuat apa-apa buat Eca. “Marg, sekarang kamu harus menyentuh punya Eca.” Aku menggerakkan tangan ke arah bawah tubuh Eca, menuju kelembapannya yang telah basah sekali. Ketika kuku-kukuku mengelus pangkal pahanya, aku dapat merasakan getaran aura yang memancar dari selangkangannya. Aku memasukkan jari tengahku ke dalam vaginanya, seperti yang kulakukan tadi ke vaginaku. Dengan gerakan yang cepat, aku memasukkan dua jari dalam sekali ke lubang kenikmatannya. Eca mulai mengerang dan melenguh, tubuhnya terangkat dari atas ranjang, berusaha memasukkan lagi jemariku lebih dalam. “Sekarang, kumau kalian menghisap jemari kalian tadi.” Perintah Elang. Karena Eca sudah sangat terangsang, dia langsung memasukkan jarinya yang tadi menyentuh kewanitaanku, menghisapnya, mengecap rasa cairan vaginaku di antara bibirnya. Melihatnya, aku melakukan hal yang sama. Menjilati jari tengah dan ibu jariku, aku merasakan cairan kewanitaan Eca yang entah bagaimana aku dapat menerangkannya. “Siapa yang ingin vaginanya dijilati?” Elang bertanya dengan nada mendesak, mengerang. Aku dan Eca pada saat yang sama hanya bisa menjawab, “Aku mau.” “Eca, letakkan kepalamu di antara paha Margie”, kata Elang. Eca menurut, kepalanya turun ke bawah. Aku merasakan rambutnya yang panjang dan lembut itu menyapu tubuhku. Sensasi yang lain tercipta kembali. “Eca, julurkan lidahmu, putar mengelilingi klitoris Margie.” Eca melakukannya. Aku merasakan lidahnya yang basah dan hangat berputar-putar di bibir vaginaku, lalu menjilati klitorisku. Bermain-main di situ, memutar, menjilati, dan menghisap dengan mulutnya. Aku mengangkat pantatku dari tempat tidur sehingga aku dapat menyorongkan vaginaku lebih jauh ke wajah Eca. Dia menggunakan lidahnya seperti jemarinya dan menggerakkannya keluar masuk lubang kenikmatanku. Ini merupakan perasaan yang paling luar biasa yang pernah kurasakan. Lidahnya yang mungil dan berbintil kecil ini berbeda dengan punya Daud. Apakah dia biasa seperti ini? aku rasa nggak. Eca hanyalah tahu dan mengerti apa yang disukai wanita dan benar-benar memaksimalkan sentuhannya di tempat-tempat rahasia wanita. Mendengarkan suara erang dan jeritan kami, aku tahu Elang pastilah sangat terangsang. Saat Eca menjilati cairan yang keluar dari liang rahimku, aku dapat melihat dia menggosokkan vaginanya dengan tangannya. “Eca, Eca saat ini sedang menjilati dan menghisap klitorisku, Lang. Egh, luar biasa”, kataku. “Marg, tanyain Eca apa dia punya dildo?” kata Elang. “Apa itu Lang?” Eca menghentikan aktifitasnya. “Penis buatan, Ca.” Jawab Elang. “Wah, nggak punya Lang. Padahal, pasti nikmat kalau vaginaku disodok-sodok.” Eca berkata dengan suara serak, “Sayang kamu nggak di sini, Lang.” “He eh. Tapi, apa kamu punya sesuatu untuk menggantikannya?” Eca memandang sekeliling, lalu tatapannya tertumbuk pada kaleng body spray dari St Michael. “Aku punya kaleng body spray. Besarnya lumayan. Kaya senjata Ndoet.” “Nah gunakan itu.” Eca mengambilnya. Membersihkannya dengan sepreinya. Aku memandangi tubuh mulusnya yang putih itu. “Sebaiknya kalian mengambil posisi 69. Letakkan vagina kalian ke wajah masing-masing.” Aku melaksanakan petunjuk Elang. Aku dapat mencium aroma yang khas dari kewanitaan Eca. “Margie, masukkan tabung itu ke dalam vagina Eca yang lembut itu”, kata Elang. Eca memberikan tabung berwarna putih dengan tutup krem itu kepadaku. Aku mendorong ‘dildo’ itu perlahan-lahan ke dalam vagina Eca. “Marg…. Ah, masukkan Marg. Uuhh.” Eca mengeram. Saat aku memasukkan lebih dalam lagi, Eca mulai menjilati kembali vaginaku yang sudah sangat basah itu. Gerakan lidahnya bertambah cepat, dan bertambah cepat. aku masih memainkan ‘dildo’ itu ke kewanitaanya. Lalu kurasakan kenikmatan yang makin membesar, orgasme yang semakin mendekat. Aku ingin memuntahkan cairan orgasmeku di bibirnya. “aaghh”, aku mengerang. Gelombang orgasme pertamaku telah datang. Dan lenguhanku membuat Eca pun mendapatkannya. Aku tahu dari pahanya yang menegang. “Uuuuuughh”, kami melenguh berdua. Eca menggerakkan pinggulnya dengan liar, berusaha memasukkan ‘dildo’ itu lebih dalam lagi. Aku dengan bersusah payah menahan tabung itu agar tidak terlepas dari peganganku. Kaleng body spray itu sungguh menjadi sangat licin sekarang. Kemudian kami berpelukan. Melenguh panjang, menikmati sensasi luar biasa yang baru saja kami lewati. Kudengar di speaker pun Elang sedang mengerang. Nafas beratnya terdengar satu-satu. Kupikir dia pun orgasme, atau malah sudah ejakulasi. Huhh! Sebuah pengalaman yang sangat fantastis. Kami bertiga dapat orgasme bersama. “Thanks, Lang”, kataku. “You very welcome.” “Hei. Kita tetap pergi ke Bengkel Night Park, khan?” Tanya Eca. “Iya.” Telepon pun di tutup Elang. Setelah itu aku dan Eca saling berpelukan. Beristirahat sebentar, lalu mandi. Setengah jam kemudian Sang Elang datang. Kami bertiga menghabiskan malam di Bengkel. Ngobrol, bertemu teman-teman yang ada di sana. Sekitar pukul dua belas, kami pulang. Saat kami keluar dari mobil Elang, dia menyerahkan sebuah bungkusan kepadaku. “Ini. Semoga kalian suka.” Aku sangat capek, dan Eca pun demikian. Besok musti masuk kerja dan kupikir sekarang sudah saatnya tidur. Eca setuju, tapi dia bilang ingin mandi air hangat dulu. Dia menuju kamar mandi dan aku mengganti pakaian dengan baju tidur, lantas merebahkan diri di tempat tidur. Kunyalakan TV dan menonton film HBO. Bingkisan dari Elang telah kami lemparkan di dekat telepon. Aku mendengar shower dimatikan, dan beberapa saat kemudian Eca muncul di kamar tidur. Handuk terlilit di tubuhnya dan satu di kepalanya. Rambutnya yang hitam tampak lembab namun tidak terlalu basah. Dia belum berganti dengan gaun tidurnya. Aku tetap menonton TV, sedang Eca, tidak. Dia meraih bungkusan yang diberikan Elang. “Oh, boy! Apa ini?” Ternyata itu adalah sebuah dildo. Entah Elang dapat dari mana. Pasti dia beli di luar negeri, waktu kemarin dinas ke Hongkong. Barang itu panjangnya sekitar 20 centimeter, berwarna coklat dan dihiasi dengan urat-urat yang tampak ‘asli’. Eca memegangnya dan berkata, “Ini toh dildo itu. Eh, apa yang akan kita lakukan dengan ini?” “Aku senang sekali kalau punya Ndoet segede ini. Akan kuhisap dan kutelan setiap malam”, katanya lagi. Eca membawa kepala dildo yang besar itu ke mulutnya dan memutarkan lidahnya mengelilingi benda itu. Kemudian dia memasukkan sebagian dari dildo itu ke mulutnya dan mulai menghisapnya seperti benda itu adalah penis asli. Aku terangsang. Eca berdiri di hadapanku menghisap dildo itu dan aku menyadari kalau puting payudaraku mulai menegang melihat Eca. Aku tidak tahu Eca sengaja atau nggak, handuk Eca terjatuh. Payudaranya yang besar itu menantang dengan pentilnya yang mengeras. Eca tersenyum padaku saat dia mengeluarkan dildo itu dari mulutnya dan menggosokkannya di antara putingnya yang kiri dan kanan. Aku harus mengakui kalau aku menjadi sangat terangsang dan vaginaku menjadi basah. Sambil memegang dildo dengan satu tangan, tangan yang lainnya bergerak ke tempat tidur. Sambil tersenyum, dia menarik kain yang menjadi selimutku. Eca melanjutkan permainannya dengan dildo tersebut, membawanya ke bagian bawah tubuhnya, dan lebih ke bawah lagi. Dengan suara yang parau, matanya tertuju kepadaku, dia memerintahku, “Buka baju tidurmu, Marg.” Saatku meloloskan baju tidur itu melalui kepala, aku menyadari betapa terpesonanya aku. Aku belum pernah senafsu ini, apa lagi ke sesama jenis. Pengalaman pertama tadi membuatku lupa diri. Saat itu pula Eca masuk ke dalam selimut yang kupakai. Dia di sebelahku, masih memegang dildonya. Dia meletakkannya di sebelahku dan menaruh tangannya di dadaku. Aku merintih dengan penuh kenikmatan ketika Eca secara halus meremasnya. Dia menggerakkan tangannya ke bahuku, menariknya ke arah atas, melewati kepalaku. Sesudah tanganku menyentuh palang yang ada di atas kepala tempat tidur, Eca tersenyum nakal. Dia mengambil dasi Ndoet yang ada di situ, lalu dengan cepat melingkarkannya di pergelanganku, mengikatku di ujung tempat tidur. Aku menahan nafas, merasakan sesuatu perasaan takut. Aku merasa sangat nggak nyaman dengan perlakuan Eca ini. Tanganku sedikit sakit karena ikatan yang kencang itu. Dia pasti menyadarinya. Dia memandangku dengan lembut dan perlahan menelusuri tubuhku dengan jemarinya. “Jangan khawatir”, katanya. “Aku tak akan menyakitimu. Dan, kamu akan menikmati ini.” Dia berbaring di sebelahku dan memelukku. Tubuhnya yang langsing terasa hangat, payudaranya menekan tubuhku. Waktu dia memeluk pahaku dengan kakinya, aku merasakan kelembutan bulu-bulu kemaluannya, lalu kehangatan vaginanya yang digosok-gosokkan ke pahaku. Aku menjadi rileks dan mulai menghayatinya. Eca menijilati dan menghisap dadaku, aku mengerang senang. Aku menjadi sangat terangsang. Salah satu tangannya menjalar ke bagian selangkanganku dan aku mendengus saat jarinya menyentuh klitorisku yang basah. Menekannya di antara labiaku, dan memasukkannya ke dalam lubang kemaluanku. Sentuhannya sungguh seksi, aku hampir saja mencapai orgasme. Aku sedikit kaget ketika mulutnya menekan bibirku. Bibirnya yang lembut terbuka, dan lidahnya menerobos mulutku. Aku mulai merasakan kenikmatan yang dihantarkan lidahnya. Kubiarkan dia menciumku, dan beberapa waktu kemudian, aku membalas kecupannya. Tangannya terus mengelus-elus vaginaku. Aku mencoba untuk mengalungkan lengan ke tubuhnya, tapi ikatan yang dibuatnya sangat kencang. Aku hanya dapat merintih di bawah pengaruh sentuhan dan ciumannya. Eca menarik mulutnya dariku dan aku membuka mataku yang tadi terpejam menghayati perlakuannya. Dia memandangku dengan tatapan liar. “Kamu akan menjadi pemakai pertama dari dildo ini, Margie”,katanya. “Kau akan menyukainya.” “Tapi Ca…” Sia-sia aku menolak. Eca telah menaruhnya di bibir kewanitaanku. “Tadi kau telah memuaskanku. Sekarang giliranmu. Nikmatilah, Margie.” Kemudian kusaksikan Eca menarik kembali dildo itu, membawanya ke mulutnya. Aku melihatnya menjilati dan menghisapnya seperti itu penis sejati. Dia mengeluarkan dildo dari mulutnya dan menyentuhkan kepala dildo itu ke mulutku. Mulutku terbuka dan Eca menekan kepala ‘penis’ yang besar itu ke dalam. “Yach, begitu Margie”, katanya. “Hisaplah kejantanan ini. Hisaplah penis besar ini. Kau menyukai penis yang besar berada di mulutmu, bukan?” Aku tidak bisa menjawab dengan kata-kata, tapi responku cukup jelas. Waktu Eca mengayunkan dildo itu keluar masuk mulut dan kerongkonganku, aku menghisapnya dan melenguh dengan penuh kenikmatan. Aku membuka mata dan melihat Eca memainkan kewanitaannya dengan tangan yang satu lagi. Vaginaku sendiri telah benar-benar banjir dan aku frustasi karena tak dapat menyentuhnya dengan tanganku untuk melepaskan tekanan nafsu syahwat yang menggebu-gebu itu. Eca menyadarinya. Dia mengeluarkan dildo dari mulutku dan memainkannya di bibirku. “Kamu siap dimasuki dildo ini?” dia bertanya. “Yaa!” aku berteriak serak. Aku sudah benar-benar kepingin membenamkan dildo itu ke vaginaku, seperti aku tidak pernah disetubuhi sebelumnya. Mulut Eca kembali menciumi mulutku, dan aku membalas dengan penuh nafsu. Sementara itu, aku merasakan Eca membawa dildo itu ke arah selangkanganku. Kepala dildo yang halus dan licin itu menyentuh labiaku yang basah dan lalu menekannya di antara kedua bibir vaginaku. Eca duduk, untuk membuatnya lebih mudah memasukkan benda itu ke tubuhku. “aahg, aaghh”, aku merintih, nafasku tidak beraturan. Eca menunjukkan dildo yang sudah 15 centimeter masuk ke dalam liang kewanitaanku. Dia perlahan-lahan, ooooh, perlahan-lahan sekali menarik keluar benda itu, hampir keseluruhannya, lalu dengan perlahan-lahan kembali memasukkannya, lebih dalam, lebih dalam lagi. Aku tidak tahan lagi. Makin terangsang. Aku tidak pernah berbicara ‘kotor’ kalau sedang ‘main’ dengan Daud atau dengan pacar-pacarku yang dulu-dulu, tapi Eca membuatku putus asa dan meminta untuk benar-benar disetubuhi. “Ooooooh. aahh”, aku menjerit. “Fuck me! Berikan padaku! Kasari aku! Masukkan Ca! Tekan! Jangan pernah kau keluarkan!” Kamar tidur Eca itu menggemakan segala kata-kata kotor yang keluar dari mulutku. (Aku dilarang Elang menceritakan teriakanku dengan mendetail. Dia beraliran softcore, kurasa.) Eca tidak perlu petunjuk apa pun. Dia mulai memompa dengan kencang dildo itu di dalam lubang kenikmatanku. Tangannya menggenggam dildo itu kencang. Tinjunya menghantam bagian luar vaginaku, membuatku bertambah nikmat. Aku merasa bagian dalam vaginaku tertarik keluar saat dildonya ditarik. Aku menikmati kekasaran yang dibuat Eca. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk membuatku puas secara total. Aku mengalami orgasme yang kurasakan sangat berbeda. Aku jarang bisa mendapatkan multiple orgasme, tapi kali ini mungkin empat atau lima kali puncak kenikmatan itu kurasakan. Aku tidak tahu mana yang duluan terjadi. Aku yang sudah orgasme, atau Eca yang telah kehabisan energi memompakan dildo itu ke vaginaku. Dia rebah di sampingku yang masih terikat. Dildonya masih tertancap di vaginaku. Eca memeluk pahaku dengan kakinya, lalu menggosok-gosokkan kewanitaannya kepadaku. Sampai akhirnya dia juga mencapai orgasme. Dia terbaring kelelahan, tidak bergerak. Aku khawatir dia langsung tidur, dan aku harus terikat sepanjang malam. Akhirnya Eca bergerak, menjauh dari tubuhku yang penuh keringat. Dia menciumku cukup lama sambil tangannya membuka ikatan tanganku. Tanganku terbebas, aku memeluknya dan menariknya ke tubuhku. Kami berciuman kembali. Aku mengeluarkan dildo dari ’sarang’nya, saat itu Elang menelepon. “Did you two enjoy my present, ladies?” Terdengar dia tertawa, kami hanya tersenyum. Aku mencium Eca, dan kami tertidur saling berpelukan. Waktu terbangun esok harinya, aku mulai ragu dengan kehidupan normalku. Aku misuh-misuh ke Elang. Dia yang memulai semua ini. Tapi Elang pula yang akhirnya meyakinkanku, kalau kadang kita emang butuh sesuatu yang beda. Buktinya, aku bakalan kawin dengan Daud beberapa bulan lagi. Doain aku ya…!
TAMAT

No comments:

Post a Comment

 

Download Templates